Kamis, 01 Januari 2015

Belajar Menulis dan Membaca Braile Bersama Volunteer Difable Care Community UNNES

Ternyata susah ya, mencoba membaca dan menulis dengan menggunakan huruf braile”. Inilah tanggapan salah satu volunteer Difable Care Community UNNES saat kami belajar perdana huruf braile. Yap, huruf braile merupakan huruf yang digunakan oleh penyandang tuna netra untuk membaca dan menulis. Huruf braile diciptakan oleh Louis Braille. 


Huruf Braile A - Z 

           Sejenak kita memejamkan mata, kemudian kami mencoba meraba huruf braile tersebut. Membaca huruf demi huruf menjadi sebuah kata dan menjadi sebuah kalimat. Subhanallah, ternyata tidak mudah teman untuk dapat membaca dengan menggunakan huruf braile. 


Belajar menulis dengan menggunakan braile 

Selanjutnya kami belajar menulis huruf braile, kami baru tahu tahu kalau untuk menulis huruf braile pun ada alat khususnya, reglette dan stilus namanya. Reglette bentuknya seperti penggaris berlubang sedangkan stilus menyerupai jarum atau paku yang ditancapkan pada kayu atau plastik. Wah, benar-benar pengalaman baru bisa mengenal reglette dan stilus. Kami pun mencoba membuat sebuah kata, “cekluk-cekluk, begitu lah bunyinya”. Syangnya saat itu kami menulis tidak dikertas khusus braille yang biasanya digunakan sebagai media menulis huruf braille.  

Bentuk reglette dan stilus

            Setelah puas belajar braille, kami pun belajar menggunakan tongkat yang biasa digunakan oleh penyandang tuna netra untuk berjalan. Pengalaman baru juga nih, tongkat yang biasa digunakan oleh penyandang tuna netra ternyata bukan sembarang tongkat loh teman, tongkta tersebut didesain supaya teman-teman tuna netra dapat berjalan dengan aman. Salah satu volunteerpun mencoba menggunakan tongkatnya, dengan memejamkan matanya untuk berjalan dan ternyata tidak mudah seperti yang kita bayangkan. 


Belajar menggunakan tongkat penyandang tuna netra 


Subhanallah, begitu adil Allah menciptakan hamba-Nya dengan segala kelebihan dan kekurangan. 

Galuh Sukmara Soejanto, S.Psi, M.A : Memaknai Pendidikan Inklusi

Oleh : Budi Wicaksono *
           
            Sekolah luar biasa yang selama ini kita kenal sebagai penjara bagi anak-anak berkebutuhan khusus dirasa sudah tidak efektif lagi pelaksanaannya. Hadirnya sekolah inklusi ditengarai mampu menjawab masalah yang sering dihadapi oleh penyelenggara pendidikan luar biasa. Pendidikan inklusi merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu dimana setiap anak dilayani sesuai dengan kebutuhan khususnya. Semua anak diusahakan untuk mendapatkan pelayanan secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya. Adanya penyesuaian terhadap kebutuhan peserta didik yang berbeda-beda memungkinkan setting yang berbeda dengan model pendidikan yang sudah ada sekarang.
Makna Baru Pendidikan Inklusi
           
Galuh Sukmara Soejanto, S.Psi, M.A , seorang deaf educator dari Rumah Belajar The Little Hijabi for Special Needs Childreen, Bekasi mengatakan selama ini guru-guru di sekolah luar biasa salah dalam mendidik anak diffabel. Kerap kali guru memaksakan anak diffabel, misalnya anak tuna rungu untuk bisa bicara dengan cara melatih terus menerus dan memaksakan agar dapat berkomunikasi . Kondisi amat disayangkan oleh Master Sign of Linguistics La Trobe University, Bundoora, Melbourne ini. Memaksakan dan melatih anak tuna rungu agar dapat berbicara bukan solusi yang tepat. Justru di sini lah peran guru sangat berperan dalam penyampaian bahasa isyarat. Sign Languange Instructor ini menjelaskan penyampaian bahasa isyarat kepada anak-anak tuna rungu jauh lebih memanusiakan mereka daripada harus memaksa mereka untuk berbicara. Kecenderungan yang ada, anak-anak tuna rungu lebih terbiasa menggunakan oral untuk berkomunikasi karena tidak diajarkan bahasa isyarat di sekolah. Kebetulan Galuh merupakan penyandang tuna rungu dan beliau pernah merasakan betapa sulitnya berkomunikasi dengan menggunakan oral. Memerhatikan setiap gerakan mulut agar mengetahui apa yang diutarakan menjadi hambatan terbesar bagi mereka. Oleh karenanya penyandang tuna rungu harus belajar bahasa isyarat. Stigma yang mengatakan kalau bahasa isyarat akan membuat kemuduran bahasa jelas tidak benar adanya. 
            Konsep pendidikan inklusi  yang diangkat oleh principal Sekolah Karakter Islam Nur Al-Hiraa (Inclusive school) ini tergolong baru. Di sekolahnya, Galuh menanamkan bagaimana caranya pendidik dapat memahami kebutuhan setiap anak difabel yang berbeda-beda. Sengaja beliau menjadikan satu anak-anak berkebutuhan khusus di sekolahnya tanpa adanya sekat. Inilah makna inklusi sebenarnya, tanpa adanya sekat khusus yang membatasi mereka untuk saling berinteraksi satu sama lain. Di sinilah peran bahasa isyarat diperlukan, tak hanya untuk penyandang tuna rungu saja tetapi untuk semua anak dengan karakteristik yang mereka miliki.

Model Pendidikan Inklusi
Selama ini model pendidikan inklusi yang diselenggarakan pemerintah adalah model pendidikan inklusi moderat. Adapun model moderat  meliputi pertama, pendidikan inklusi yang memadukan terpadu dan inklusi penuh, dimana model ini menyertakan peserta didik berkebutuhan khusus untuk menerima pembelajaran individual di kelas reguler. Kedua, model pendidikan mainstreaming, dimana model ini memadukan antara pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dalam hal ini sekolah luar biasa  dengan pendidikan reguler. Peserta didik berkebutuhan khusus digabungkan ke dalam kelas reguler hanya untuk beberapa waktu saja.
Berbeda dengan model yang sudah ada, Galuh Sukmara Soejanto, S.Psi, M.A mencoba mengembangkan model pendekatan yang lebih humanis, dimana beliau lebih menekankan pada penyesuaian kebutuhan peserta didiknya berdasarkan kelainan, potensi kecerdasannya dan atau bakat istimewa yang dimilikinya. The Little Hijabi Homeshooling, Bekasi merupakan salah satu role model inovasi pendidikan inklusi. Dengan sistem homeschooling , guru mendampingi setiap siswa berkebutuhan khusus paling tidak 4-5 orang. Kemudian guru memberikan materi berdasarkan keinginan siswa. Proses penyampaian materi ajar pun disesuaikan dengan prinsip kenyamanan, maksudnya ketika anak merasa lebih mudah dan nyaman untuk menangkap materi maka guru dapat menggunakan gaya belajar  tersebut untuk menyampaikan materi. Di sini jelas setiap siswa memiliki gaya belajar sendiri-sendiri untuk itu guru bukanlah satu-satunya dijadikan sumber belajar tetapi siswalah yang dijadikan fokus sumber belajar guru. Galuh selalu menekankan kepada orang tua yang menyekolahkan anaknya di The Little Hijabi Homeschooling  untuk lebih mengapresisasi anak berkebutuhan khusus tanpa memandang sebelah mata kekurangan yang dimilikinya. Apresiasi ini akan menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat pada anak. Hal ini sangat penting bagi proses perkembangan anak.
Pada akhirnya konsep inklusi memberikan pemahaman pada kita mengenai pentingnya penerimaan anak-anak yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk diberikan kesempatan mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.



*Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang 


Selasa, 30 Desember 2014

SMA Negeri 2 Kebumen, Merintis Sekolah Inklusif, Pramuditaya Buktinya

Pramuditaya Dyan Prabaswara, Peraih Mendali Emas OSN Matematika SMALB dan SMA/SMK Inklusif PK-LK Dikmen dari SMA Negeri 2 Kebumen kini masih tercatat sebagai siswa aktif kelas XII IPA. Senang sekaligus bangga sekolah tempat menuntut ilmu selama 3 tahun dahulu, begitu terbuka memberikan akses pendidikan untuk kaum difabel. Selamat dan makin jaya untuk SMA Negeri 2 Kebumen.

Pramuditaya berpose memegang mendali emas OSN Matematika

Jumat, 26 Desember 2014

Libna, Mengajarkan Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia)

Menemukan sahabat baru, Libna namanya. Libna merupakan penyandang tunarungu (deaf). Minggu kemarin, dia mengajarkan ku alfabet bahasa isyarat Indonesia dengan sabar. Ku akui saat itu, aku selalu terbalik mempraktekkan huruf "S" . Tanganku selalu salah, tetapi sekarang sudah bisa kok, Lis. Usut punya usut nih, bahasa isyarat itu penting dipelajari oleh orang normal seperti kita. Mengapa demikian ? Ya, dalam berkomunikasi kaum tunarungu tak bisa selamanya menggunakan komunikasi oral. Libna terima kasih atas pelajaran yg kamu berikan kemarin. Harapanku, kita akan terus bersahabat karena aku banyak belajar darimu.

Libna sedang mengajarkan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO)

Senin, 08 Desember 2014

Menggagas Kampus Inklusi - Juara II Kompetisi Esai Blog Temu Inklusi

Oleh : Budi Wicaksono*

            Pada penerimaan mahasiswa baru Universitas Negeri Semarang (UNNES) tahun 2014, UNNES menerima salah seorang mahasiswa baru yang memiliki diferent abilty (difabel). Natalia Hersaniati namanya, dia diterima pada jurusan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) jalur undangan.
            Proses verifikasi mempertemukan saya dengannya hingga saat ini. Selama mengikuti proses perkuliahan Natalia ditemani ayahnya, Herlambang Pambudi. Suatu ketika saat saya akan menemui dirinya di Gedung B5 UNNES pemandangan mengharukan terjadi, ayahnya menggendong dirinya dari gedung lantai tiga tersebut. Herlambang Pambudi kemudian meletakkan dirinya di sandaran tempat duduk untuk selanjutnya membawa kursi rodanya turun. Tak berbeda jauh dengan proses perkuliahan di jurusannya ayahnya pun rela naik turun tangga untuk mengantar putrinya kuliah. Herlambang menuturkan, dirinya rela mengambil shift malam mulai pukul 22.00-06.00 untuk kemudian pada pukul 09.00-16.00 mengantar buah hatinya ke kampus. Tak hanya itu, setiap harinya ayah Natalia menyewa mobil milik saudaranya untuk perjalanan dari rumahnya Bergas menuju kampus. Pihaknya mengharapkan  perhatian lebih dari pihak kampus untuk kaum difabel. Bapak tiga orang anak ini meminta Natalia bisa di buatkan ramp (bidang miring) untuk jalur kursi rodanya, selain itu dapat disediakan jadwal khusus sehingga dirinya dapat menemani putrinya menuntut ilmu.
            Entah kebetulan atau tidak, nyatanya selama proses perkuliahan berlangsung dirinya mampu mengikuti meski dalam kondisi keterbatasan fisik dan minimnya fasilitas yang disediakan. Isu ini penting kita angkat di tengah kampus kita. Mengapa ? karena ketika ada mahasiswa difabel yang masuk ke dalam sebuah lembaga pendidikan berapa pun jumlahnya harus diberikan aksesbilitas karena aksesbilitas adalah dua sisi mata uang yang saling terkait jika kita berbicara tentang inklusi. Untuk menjadi inklusi aksesbilitas adalah syaratnya. Aksesbilitas dirancang untuk memastikan agar setting umum yang dibuat agar sedapat mungkin ramah dengan keberadaan kaum difabel.
Sebenarnya dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Menyebut pendidikan yang berkeadilan serta tidak diskriminatif ada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif, secara spesifik dalam pasal 1 menyebutkan bahwa pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Pendidikan inklusif menyediakan program pendidikan yang layak, menantang tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan (Stainback,1980).
Kebutuhan belajar bagi kaum difabel tidak hanya sebatas pada satuan pendidikan dasar dan menengah saja. Melalui landasan yuridis tersebut, kaum difabel kini mempunyai hak untuk menikmati pendidikan tanpa terkecuali di Perguruan Tinggi (PT). Pendidikan yang bermutu dan tanpa diskriminasi memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Memang, ukuran pencapaian nilai kaum difabel tidak bisa disamakan dengan kita, tetapi dapat dilihat dari aspek kesesuaian program studi yang mereka pilih dibarengi dengan penyediaan fasilitas penunjang bagi mereka.
Gagasan Kampus Inklusi
Gagasan kampus inklusi bagi Universitas Negeri Semarang (UNNES) perlu dicanangkan. Melihat fakta yang ada , salah satu mahasiswa di sebuah fakultas di UNNES adalah penyandang difabel. Mahasiswa tersebut tidak bisa kita abaikan untuk tidak diberi akses, dia mempunyai hak yang sama dalam mengakses segala informasi dengan tetap menyesuaikan kebutuhannya. Jika universitas ini berkomitmen membuka akses pendidikan bagi penyandang difabel dibutuhkan persiapan infrastruktur dan suprastruktur dengan baik. Menurut saya, beberapa syarat minimal yang harus dipenuhi jika kampus ini akan dijadikan lembaga pendidikan inklusi :
Pertama,  pihak birokrasi yang harus mengubah perspektif tentang difabilitas. Salah satu caranya dengan proses sosialisasi kampus inklusi bagi semua program studi / jurusan yang ada di UNNES untuk menyatukan suara mewujudkan UNNES inklusif . Dari sana diharapkan terbentuk kelompok kerja yang dapat merumuskan program dan langkah-langkah yang harus diwujudkan UNNES sebagai kampus inklusi. Untuk memperkuat hal tersebut dapat dilakukan ngawruh ilmu dengan kampus lain yang telah mendeklarasikan sebagai kampus inklusi. Ke depan dapat ditindaklanjuti proses sosialisasi ke sekolah inklusi.
Kedua, menyusun kebijakan pola pengajaran yang sensitif dengan disabilitas. Hal ini penting dilakukan untuk membuat rambu-rambu pada staf dan pengajar untuk tidak bersikap diskriminatif pada mahasiswa difabel yang mengikuti perkuliahan di kelas-kelas. Pengembangan pengetahuan staf pengajar mengenai strategi mengajar mahasiswa difabel. Training dan workshop dapat memenuhi kebutuhan ini. Secara tidak langsung juga pengembangan pengetahuan staf pengajar  mengenai disabilitas merupakan salah satu upaya mengubah cara pandang staf pengajar memandang disabilitas. 
Ketiga, membuat database khusus mahasiswa difabel, hal ini penting dibuat untuk mempermudah pemberian informasi pada dosen yang akan mengajar di kelas. Pemberian informasi sebelum proses perkuliahan berjalan penting diberikan agar dosen terkait menyediakan pola pengajaran yang tepat bagi mahasiswa difabel. Selain itu, database ini menjadi bahan pertimbangan bagi tata usaha untuk menyediakan ruang perkuliahan yang mudah diakses oleh mahasiswa yang bersangkutan.
Keempat, membuka regulasi penerimaan mahasiswa penyandang difabel melalui Seleksi Khusus Program Penyandang Disabilitas (SKPPD) yang mempermudah mahasiswa difabel mendaftarkan diri ke UNNES. Tak hanya itu, beasiswa untuk mahasiswa difabel yang tidak mampu juga pun perlu sediakan seperti layaknya mahasiswa UNNES lainnya. Tetapkan target jangka pendek dan panjang yang ingin UNNES bangun. Melalui seleksi khusus, pihak universitas dapat memfokuskan akan menerima mahasiswa difabel dengan bentuk keistimewaan seperti apa. Mungkin di tahun pertama UNNES ingin menjangkau kaum tunarungu dan tunadaksa dahulu atau yang lainnya.
Kelima, menciptakan lingkungan akademik yang sensitif dengan difabel. Lingkungan akademik yang sensitif dengan difabel meliputi : gedung perkuliahan, perpustakaan, bahan pustaka dan proses perkuliahan. Gedung perkuliahan yang sudah di UNNES tidak perlu dibongkar, cukup dimodifikasi dengan kebutuhan mahasiswa difabel yang bersangkutan. Misalnya, membuat jalan khusus bagi mahasiswa yang menggunakan kursi roda atau mempermudah akses jalan dari lantai satu ke lantai lain di atas atau di bawahnya.
Keenam, memberikan penyadaran terhadap mahasiswa UNNES terhadap kaum difabel yang kuliah di UNNES. Pemberian role model tentang cara memperlakukan mahasiswa difabel sesuai dengan keistimewaannya menjadikan mahasiswa UNNES dapat berdampingan dan berinteraksi dengan mahasiswa difabel. Misalnya dengan program pendampingan belajar bagi mahasiswa difabel dalam melakukan aktivitas-aktivitas akademik.
Ketujuh, membentuk lembaga layanan mahasiswa difabel. Keberadaan lembaga layanan mahasiswa difabel layak diperlukan dalam kampus inklusi. Mengapa ? seringkali diskriminasi yang dialami oleh mahasiswa difabel secara berangsur-angsur membuat tekanan psikologis yang efeknya berpengaruh dalam menjalani perkuliahan. Di sini lah peran lembaga mahasiswa difabel diperlukan untuk meminimalisir dampak diskriminasi yang dialami mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Kedelapan, menanamkan dalam diri kita, kalau kaum difabel bukan produk Tuhan yang gagal karena Tuhan tidak pernah menciptakan produk gagal, kaum difabel tidak perlu dikasihani tetapi perlu diberikan kesempatan, itulah pesan dari Drs. Ciptono, peraih Kick Andy Hero, Guru Luar Biasa.
Akhirnya konsep pendidikan inklusi dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya termanifestasikan jika seluruh elemen kampus memiliki kemauan yang kuat untuk menerima perbedaan dan hidup di dalam keberagaman dengan menghilangkan kebiasaan curiga dan memandang remeh orang lain.



*Mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Angkatan 2012


Jumat, 05 Desember 2014

Persembahan Terindah, Untukmu Sahabat

Natalia Hersaniati sahabatku yang kini menjadi mahasiswa jurusan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang merupakan sahabatku yang luar biasa. Di tengah keterbatasan fisik yang disandangnya masih ada semangat untuk meraih cita-cita. "Kekuranganku, sudah kutimbun dengan semangat Ayahku. . Kekuranganku, akan kukalahkan, kubuktikan menjadi penerjemah. . menghamburkanku supaya terbang. Agar semua dunia tahu. Bahwa aku ada. Ia tak mengurungku", itulah petikan semangat Natalia. Setiap hari Natalia berangkat dari rumahnya di Jalan Kenangkan, RT. 01/RW. 07 Kel. Bergas Kidul, Kec. Bergas, Kab. Semarang menggunakan mobil yang sengaja disewa ayahnya untuk keperluan mengantar dirinya kuliah. Awalnya, Natalia adalah gadis normal seperti umumnya. Namun, ketika umur 15 bulan dia terkena panas tinggi. Setelah dibawa ke puskesmas terdekat, dokter mendiagnosis Natalia terkena polip sehingga beberapa sarafnya tidak berfungsi optimal. Ayahnya, Herlambang Pambudi merupakan sosok paling setia yang menemani Natalia pergi ke kampus. Beliau rela mendorong kursi roda Natalia dan tak sungkan menggendong dirinya ketika Natalia harus berkuliah di lantai 3, Sang Ayah dengan rela mengangkatnya dari kursi roda sebelum menggendongnya naik ke lantai 3. Setelah itu, Natalia dikembalikan lagi ke kursi roda. Sang ayah rela mengorbankan apapun asalkan Natalia dapat menyelesaikan studinya di Unnes sampai akhir. Kursi roda Natalia kini sudah usang kondisinya. Ayahnya sudah berulang kali merombak kursi roda yang dipakai Natalia agar sesuai dengan kondisi dirinya. Untuk itu saya berharap agar diwujudkan Natalia diberikan kursi roda baru untuk keperluan kuliah. Kalau bisa kursi roda tersebut dilengkapi tombol elektrik yang dapat mempermudah Natalia berjalan, jadi tak perlu bersusah-susah Ayahnya medorong. Ayahnya pun dapat fokus bekerja, karena begitu luar biasa pengorbanan yang dilakukan Ayahnya untuk dirinya. Ayahnya rela bekerja mengambil kerja dari jam 3 sore sampai jam 4 pagi agar paginya dapat menemani Natalia kuliah.


Senin, 01 Desember 2014

Kampus Inklusi

Berbagi apa yang sudah saya dapatkan ketika ngawruh ilmu di UIN Sunan Kalijaga. Ini tentang profil Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga menyediakan berbagai layanan dan fungsi advokasi :
1. Admisi 
Dalam proses penerimaan mahasiswa baru, PLD memberikan layanan sejak dari masa pendaftaran. Bantuan ini meliputi pengarahan dalam pemilihan jurusan dan registrasi online. Pendampingan juga diberikan pada saat ujian masuk dari berbagai jalur. Pendampingan khusus diberikan untuk calon mahasiswa tunarungu dan tunanetra. 
- PLD bekerjasama dengan kantor admisi memberikan waktu tambahan 30 menit untuk kedua kelompok tersebut
- Khusus mahasiswa tunanetra, PLD mnyediakan tenaga pendamping untuk membacakan soal bagi mereka yang mendaftar melalui jalur non regular
- Untuk jalur regular PLD dan kantor admisi menyediakan soal dalam bentuk Braille.
2. Saat Proses Perkuliahan 
- Note taking (asistensi pencatatan kuliah) untuk mahasiswa tunarungu
- Reading texts (membacakan bahan-bahan kuliah) untuk mahasiswa tunanetra
- Konsultasi akademik terkait dengan hambatan-hambatan dalam kuliah maupun penulisan skripsi 
- Pendampingan saat ujian tengah semester dan ujian akhir semester.
3. Aksesbilitas 
- Bekerjasama dengan UPT Perpustakaan dalam mengelola Diabel Corner 
- Melakukan advokasi oenempatan KKN untuk mahasiswa difabel agar bias berbaur dengan mahasiswa lain dan di masyarakat / komunitas non- difabel
- Pembuatan rambu-rambu jalur aksesbilitas dan parker difabel
- Edukasi parkir ramah difabel.
4. Peningkatan Kapasitas 
Sebagai upaya untuk meneruskan dan meningkatkan layanan PLD diselenggarakan program yang melibatkan berbagai pihak :
- Penerbitan buku best practices layanan difabel dan pedoman penyelenggaraan pendidikan inklusi 
- Pelatihan bahasa isyarat untuk relawan PLD
- Training relawan inklusi 
- Workshop dan Focus Discussion Group Pengajaran Inklusi untuk para dosen yang sedang mengajar difabel.


Disediakan jalan khusus difabel 


Difable Corner (Perpustakaan Khusus Difabel)