Bersama Mbak Safrina Rovasita.
Kini beliau tercatat sebagai mahasiswi program pascasarjana UIN Sunan Kalijaga
prodi Bimbingan Konseling Islam. Dulu Mbak Nina menyelesaikan sarjananya pada
jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNY. Diberikan kesempatan untuk menggali
lebih dalam tentang beliau di peringatan hari difabel internasional kali ini.
Dari mulai dirinya yang ingin masuk jurusan Bahasa Indonesia namun dirinya
masuk PLB. Tentang kecintaannya dengan dunia tulis menulis. Sampai-sampai dulu
dirinya sempat akan menjuarai kompetisi LKTI tingkat nasional hanya karena
dirinya difabel digugurkan dari kompetisi tersebut. Tanpa sungkan dirinya mengajak
saya dan teman-teman untuk mendaki gunung bersama setelah menyelesaikan studi
S2-nya.
Minggu, 30 November 2014
Sabtu, 15 November 2014
Berbagi Bersama Adik-adik YPAC Semarang
Rintik hujan Semarang
tak menyurutkan niat kami untuk berbagi keceriaan bersama adik-adik YPAC
(Yayasan Penyandang Anak Cacat). Kalian tahu? Sungguh anak anak di sana
memiliki semangat yang luar biasa. Berada di belakang kawasan metropolitan
Semarang menjadikan yayasan ini bak mutiara tak terkira yang menyimpan kemilau.
Inilah cara kami
pemuda, mengisi waktu luang kami. Membuka kepedulian terhadap anak anak yang
membutuhkan kita yang terkadang banyak diantara kita melupakan keberadaan
mereka. Bernyanyi, menggambar, dan bercerita itulah kegiatan yang baru saja
kami lakukan. Sungguh luar biasa
Bersama adik-adik YPAC Semarang
Bernyanyi bersama adik-adik YPAC Semarang
Minggu, 19 Oktober 2014
Belajar BISINDO Bersama Teman-teman GERKATIN SEMARANG
Setiap
hari Minggu pagi di kawasan Car Free Day Simpang
Lima, Semarang tepatnya di depan tugu patung kuda UNDIP Pleburan aku bersama
kawan-kawanku biasanya ikut menyosialisasikan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO)
bersama teman-teman dari GERKATIN (Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu
Indonesia) SEMARANG. Sebelum melangkah
lebih jauh, Budi akan jelaskan apa itu BISINDO ?
BISINDO
pertama kali diciptakan dan dicetuskan oleh Dimyati Hakim (Ketua DPP
PERTRI), tunarungu, berkaitan dengan maraknya pertikaian dan polemik penggunaan
bahasa isyarat di Indonesia. Dimyati Hakim yang pertama kali meneliti dan membedakan
bentuk bahasa isyarat di Indonesia, yaitu berbentuk struktural dan konseptual
dengan memaparkan fungsi, maksud, tujuan, dan lingkup penggunaannya.
Salam
Angka
Sejatinya,
penggunaan bahasa isyarat dalam pergaulan komunitas tunarungu di masyarakat,
isyaratnya haruslah memenuhi 3 unsur utama, yaitu kecepatan, keringkasan dan
kepahaman. Melihat kenyataan tersebut diatas, sebagai sebab dan akibatnya maka
timbullah dua pandangan yang berbeda dalam penggunaan bahasa isyarat di
Indonesia, yaitu bahasa isyarat struktural yang berkaitan dengan struktur
bahasa Indonesia seperti yang berkaitan dengan struktur bahasa Indonesia
seperti yang digunakan dalam kamus SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia)
produk kementerian Pendidikan Nasional, dan bahasa isyarat konseptual yang
berkaitan dengan budaya dan karakter komunikasi tunarungu Indonesia yang hingga
saat ini masih diteliti oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Bahasa Isyarat
Indonesia (Lemlitbang BISINDO) yang didirikan oleh Dimyati Hakim bersama
dengan teman-teman tunarungu Indonesia (Sumber : Persatuan Tuna Rungu Indonesia).
Seperti
yang sudah dijelaskan di atas, keberadaan BISINDO sebagai alat komunikasi
penyandang tuna rungu dengan masyarakat itu sangatlah penting. Pertama kali
Budi belajar BISINDO karena motivasi dari Ibu Galuh Sukmara saat beliau mengisi
Seminar Nasional Pendidikan Inklusi di kampusku. Aku merasa kesulitan untuk
berkomunikasi dengan beliau, ya karena sekali lagi saat itu aku belum bisa
belajar bahasa isyarat. Terus aku lihat Mas Rully, dia adalah translater
BISINDO, aku kagum dengannya. Nah inilah motivasi awal yang membuat aku
tertarik untuk belajar.
Selain
itu, Bu Galuh juga pernah menyampaikan pesan kepada ku, belajarlah BISINDO
karena dengan BISINDO kamu akan menghargai hak asasi penyandang tuna rungu.
Memang sih, kita yang seharusnya belajar dan memamahi mereka, bukannya mereka
yang harus kita paksakan untuk berkomunikasi sama seperti kita. Bukan begitu ?
Setelah
acara seminar itu selesai, aku memutuskan untuk mencari tempat sumber ilmu yang
dapat mengajarkanku BISINDO. Ternyata di Semarang ada dan kebetulan baru saja
di sosialisasikan oleh GERKATIN. Ku putuskan deh untuk gabung.
Belajar BISINDO
Pertama
kali belajar BISINDO, aku dibelajari oleh Libna. Libna merupakan penyandang
tuna rungu yang aktif menyosialisasikan BISINDO setiap minggunya. Butuh waktu
30 menit untuk belajar alfabet BISINDO. Yess, aku bisa, meski saat itu aku
masih lupa dengan huruf “H” tanganku selalu saja terbalik mempraktikkan. Hehee.
Setealah belajar alfabet aku pun belajar BISINDO lainnya, seperti
ucapan-ucapan, keluarga, angka, dsb. Alhamdulillah sedikit-sedikit bisa.
Buat
temen-temen yang penasaran ingin belajar BISINDO dan ingin turut serta
memperjuangkan BISINDO sebagai bahasa komunikasi penyandang tuna rungu
dimasyarakat, Ayo gabung bersama kami. Nanti kita akan bertemu dengan
teman-teman hebat di sana.
Jumat, 10 Oktober 2014
Kasih Sayang Berbalut Harumnya Aroma Bunga
***
Tiga puluh tahun tak terasa, ibu melanjutkan perjuangan embok untuk berjualan bunga di pasar.
Kebakaran, relokasi dan renovasi pasar menjadi saksi bisu perjalanan ibu berjualan
bunga. Bunga tabur untuk ziarah ke makam menjadi primadona para pembeli
kebanyakan. Tak hanya bunga, ibu menjajakan berbagai ramuan herbal atau jamu, wedak (bedak), minyak wangi dan kelengkapan
sripahan (orang meninggal).
Secara rutin ibu berjualan bunga di pasar tanpa libur.
Pagi-pagi sekali beliau sudah memasak dan mempersiapkan segala kebutuhan yang
diperlukan aku, adik dan ayahku. Kesibukaan ibu di setiap pagi sangatlah nampak
karena ayah harus berangkat pagi ke kantor, adik juga harus sekolah. Hal ini
memaksa ibu untuk bergerak cepat agar semua dapat terlayani. Bermodalkan sepeda
onthel, ibu memuliakan dirinya untuk
keluarga tanpa rasa mengeluh sedikit pun.
Setelah semua urusan rumah beres, ibu bergegas pergi ke
pasar untuk membuka lapak bunga sederhana miliknya. Terkadang ibu berangkat
siang hanya karena mengurusi urusan rumah yang tak selesai-selesai. Bagi ibu,
berangkat pagi ataupun siang ke pasar tidak menjadi masalah karena rezeki sudah
diatur oleh Allah SWT yang terpenting kewajiban sebagai seorang istri dan ibu
telah ditunaikan. Di pasar, ibu termasuk pedagang yang paling siang membuka
lapak bunganya dibandingkan pedagang serupa yang sudah buka sejak shubuh.
***
Lapak ibu berukuran 3 x 4 meter dan di lapak itulah ibu
memeras keringatnya di tengah harumnya semerbak bunga yang dijejer di atas penampan. “Crik, crik,
crik”, percikan air ibu percikkan ke bunga-bunga yang baru saja dijejer.
Aku sebagai seorang anak, bangga memiliki sosok ibu
seperti beliau. Meskipun bapak bekerja sebagai seorang pegawai negeri, namun
ibu tidak mau berpangku tangan begitu saja. Bagi ibu, berjualan bunga merupakan
usahanya untuk membantu bapak menghidupi keluarga. Selain itu, berjualan bunga merupakan
profesi turun temurun dari embok
dahulu. Mungkin karena cinta, ibu susah melepaskan profesi berjualan bunga ini.
Berkat ibu, aku dapat melanjutkan pendidikan sampai
tingkat universitas. Betapa kasih sayang ibu kurasakan tak terhingga, ibu rela menahan
dirinya untuk meminta kebutuhan yang neko-neko
pada bapak demi aku. Bapak diminta fokus membiayai pendidikan anak-anaknya,
sedangkan untuk masalah biaya hidup sehari-hari ibu rela menanggungnya.
Suatu kali, ibu menceritakan saat dirinya ditanya oleh
rekan bapak di kantor : “Bu, ibu ini kan istri pegawai, kenapa nggak
ikut-ikutan seperti istri pegawai yang lain?”. Aku terdiam dan berkaca-kaca
saat ibu menjawab :”Saya nggak punya apa-apa, dan tak terbiasa untuk hidup apa
adanya meskipun menjadi istri pegawai sekali pun, yang saya punya adalah anak,
dan usaha maksimal akan saya lakukan untuk anak-anak saya demi masa depan yang
lebih baik dari orang tuanya dahulu”.
Rasa kasih sayang ibu begitu lekat ku rasakan, dahulu
saat aku belum merantau kuliah, begitu dekatnya aku dan ibuku. Kami berdua
sering menghabiskan waktu bersama untuk sekadar ngobrol, makan bareng dan hang out. Tanpa rasa malu aku selalu
mengikuti kemana ibu pergi bahkan sampai sekarang. Ibu sangatlah sayang pada
aku dan adikku, permintaan-permintaan yang tidak dapat dipenuhi bapak, perlahan
tapi pasti ibu mewujudkannya. Ini yang menjadi alasan kuat ibu tidak akan
meninggalkan profesi berjualan bunga sampai akhir hayatnya.
Aku merindukan momen bersama dengan ibu, saat aku harus mengantarkan beliau ke pasar,
membantu membuka lapaknya, dan membantu berjualan bunga di pasar. Rasanya
senang dan bangga saat aku berjualan bersama ibu. Bukannya pamer, tapi saat ibu
ditanya oleh kawan-kawannya : “Putranya dimana sekarang, bu ?”. Terpancar binar
kebahagiaan saat ibu menjawab kalau anaknya sekarang sedang kuliah meski
dirinya hanya berjualan bunga dan tamatan SD.
Ibuku selalu mengajarkan ku untuk hidup apa adanya,
meskipun aku calon sarjana tetapi ilmu yang ku dapat tidak mampu menggantikan
pengorbanan serta cinta kasih tulus yang ibu berikan padaku. Ibu, anakmu Budi
Wicaksono kini tengah berjuang. Disetiap nafasmu doakan selalu berjuangan ini.
Aku sayang ibu...Untukmu ibuku Sri Sudaryati, pahlawan hidupku...kasih sayangmu
akan selalu harum di hati ini.
-
Budi Wicaksono -
Langganan:
Postingan (Atom)



